Yang Ku Impikan


 

Suasana malam di Desa Bugan, desa kelahiranku sangatlah bersahabat, Hembusan angin malam menciptakan sepoi-sepoi pada dedaunan yang rindang di depan rumahku. Kemerlap-kelip bintang di langit yang sunyi menambah indahnya suasana malam ini, bintang-bintang itu seakan sedang berlomba memperebutkan sang jagoan yang paling terang diantara mereka.

Di sebuah meja belajar yang langsung berhimpitan dengan jendela yang kira-kira berukuran 50×50 cm, aku sibuk menulis surat untuk sahabat penaku yang berada di

Kalimantan. Kemarin sore surat dari Rena, sahabat penaku ini baru tiba di kotak pos rumahku.

Sesekali juga aku memandangi sebuah rembulan yang tak jauh dari bintang yang bercahaya indah diatas sana diiringi sejuknya angin malam menerpa wajah polos tanpa make-up ku memaksa ku untuk mengenakan jaket pink bergambarkan Hello Kitty yang aku dapat saat ultah yang ke-15th kemarin. Namun, kondisi ini tak sedikit pun menghilangkan semangatku untuk menulis balasan surat sahabat penaku ini.

Memandangi bintang dan rembulan dan bersurat-suratan…………….

Mungkin ini sudah menjadi Habit-ku, mengisi waktu, menemukan partner ,memperluas pergaulan dengan berkirim surat pada sahabat-sahabat ku yang ada di luar kota. Maklum, saat ini di desaku belum ada yang namanya Handphone, i-pad, tab ataupun teknologi lainnya yang bisa di gunakan.Setelah selesai menulis balasan surat untuk Rena, akupun membungkus surat itu dengan tatanan simple tapi elegant.

Kembali ku pandangi ciptaan-Nya yang begitu indah, terlintas aku merindukan sosok ayah yang selalu menemaniku disaat-saat seperti ini.

Rutinitas ini telah aku jalani semenjak aku masih dalam gendongan ayah, Dia yang selalu mengibur disaat aku sedang butuh sosok seorang Ibu dalam dekapan, ia selalu berkata bahwa ibumu selalu ada di antara bintang itu terutama yang paling dekat dengan Rembulan yang sangat indah sana. Ibuku sudah pergi menghadap Sang Khalik sekitar 16 tahun silam, ketika mengandungku, ibu mengidap kanker Rahim. Saat tiba waktu ku melihat indahnya dunia, saat itu pula ibuku pun menghembuskan napas terakhirnya, tepatnya dua hari setelah kelahiranku. Aku lahir pada 29 Agustus, akupun benar-benar tidak tahu bagaimana sosok ibuku. Tapi, ayah dengan sabarnya menggantikan posisi Ibu dalam hidupku. Ayah yang menceritakan semua tentang ibu padaku, dengan bantuan Eyang, Ninik dan bibiku mereka saling bahu-membahu mencari uang supaya bisa membelikanku SGM (susu gemuk manis) pengganti Asi dari ibuku.

Berkat usaha keras mereka lah, aku bisa tumbuh dan berkembang hingga tak terasa umurku tiga hari lagi menginjak usia ke-16th.

Hampir dua pekan berlalu Ayah tidak ada di rumah, ia pergi keluar kota karena ada tugas Dinas, tapi tak tau kenapa, malam ini sosok ayah selalu terlintas di benakku.

“Tata, kamu lagi ngapain?” Suara lembut itu sangat khas terngiang di teligaku, segera membuyarkan lamunanku.

“Enggak kok, barusan aja Tata bikin surat buat Rena, Nik “kataku lembut dan sedikit lesu,sambil menoleh ke arahnya. Yap, mereka adalah Eyang dan Ninik dari Ayahku, mereka sangat dekat denganku, terutama Eyang,ia mengerti semua sifatku, maka dari itu aku tak pernah bisa bohong pada Eyang, ia tahu perubahan mimik wajahku kalau aku lagi kangen sama Ayahku.

“Ni udah malam Tata, cepat tidur entar telat besok ke sekolahnya “pintanya sambil menutup jendela kamarku.

“Eyang gimana sih, besok kan tanggal merah masa Tata disuruh sekolah, “jawabku sedikit manja pada mereka. Ninik pun tersenyum melihat kearah Eyang seolah menandakan kalau mereka tak bisa merahasiakan tanggal esok padaku, cucu kesayangan.

Memang sih, kalau tanggal sudah mendekati hari kemunculan ku di alam dunia ini, aku selalu tahu tanggal merahnya karena biasanya Ayah selalu menyusun rencana jauh-jauh hari untuk merayakannya. Tak jarang Ayah juga bertanya padaku tentang apa yang aku inginkan di hari istimewa ku nanti dan biasanya saat hari istimewa itu tiba, ia pun memberikannya padaku.

Dibalik semua itu ada satu kado yang sangat aku harapkan namun belum tercapai di Ultahku ke-14th dan 15th kemarin, aku minta dibelikan Handphone pada ayah. Berat rasanya untuk ungkapkan kalau aku ingin dibelikan Handphone. Tapi di sisi lain aku juga lelah selalu di ejek oleh kawan kelas karena mereka sering melihat ku menulis surat untuk sahabat penaku.

“Ni bukan jamannya lagi keles, bikin surat-suratan, “ejek Roni kawan sekelasku yang paling sering mengolok-olokku.

“iya ni, tahu gak sih nulis surat tu bikin tangan pegal, mana ngirimnya lamaaaaaa banget untuk sampaii di tempat tujuan , males banget” sahut Rindi, anggota Roni’s Geng.

Akupun hanya bisa diam saat mereka berkata seperti itu di hadapanku. Aku berusaha sabar dan tabah karena aku yakin Allah pasti tahu segalanya.

Namun ada satu kejadian yang bikin aku benar-benar malu dan sekaligus kecewa yaitu kejadian yang konyol saat aku duduk di bangku putih baru.

Tepatnya saat aku dan teman sekelasku jalan-jalan ke Taman Pelangi di kotaku. Kami pun berteduh di bawah pohon Cinta.Kebetulan aku duduk di dekat Dika dan Amel. Detik waktu terus berlalu, Dika sibuk dengan Handphone baru miliknya, Amel sibuk Chattingan sama Dito,teman dekatnya. Sedangkan aku bertolak belakang sama mereka, dengan jenuh aku membaca sebuah novel karya novelis favoritku yaitu Asma Nadia. Sesekali ku pandangi mereka, dengan rasa penasaran akupun mulai bertanay-tanya pada mereka.

“Hei,,, kalian lagi sibuk apaan sih ?”tanyaku sedikit ngeyel.

“Oh, maaf Tatut yang imut “jawab Amel gemes.

”Ini loh, gue lagi BBM-an sama si dia, biasa “sambungnya bikin ku penasaran.

BBM? Bahan Bakar Minyak maksudmu?”tanyaku lagi.

Seketika tawa Amel meledak dan diikuti oleh Dika ketika mengetahui betapa gapteknya aku. Aku yang saat itu bingung menyembunyikan wajah maluku ketika di tertawakan oleh kedua sahabat kecilku ini.

“hahaha, bukan bahan bakar minyak Ta,tapi Blackberry Messenger”jawab Dika dengan mengusap sejentik air mata di sudut matanya akibat ledakan tawanya.

“Apaan tu Blackberry messenger”jawabku tambah bingung.

“Itu ya kayak sms gitu Ta tapi lebih seru. Soalnya nih disitu kita bisa tahu photo orang yang kita ajak sms-an. Jadi muncul photonya gitu.”terang Dika.

“Apalagi di Blackberry Messenger itu Emoticon nya banyak lho Ta, dapat menggambarkan bermacam-macam ekspresi” lanjutnya.

“Kita juga bisa update status lho, tentang apa yang sedang kita lakukan atau yang sedang kita rasakan saat ini. Seumpama kamu lagi sibuk, lalu kamu nulis status busy atau lagi sibuk. Nah, nanti teman-teman mu yang terdaftar di kontakmu tahu kamu lagi sibuk dan akan menghubungi nanti setelah kamu ga sibuk lagi”lanjut Amel. Aku pun mengangguk anggukan kepala pertanda mengerti dengan apa yang mereka jelaskan.

“Terus gimana caranya biar bisa punya BBM?” Tanya ku.

“Ya…..download dong aplikasinya di apps store, atau kamu harus beli ponsel blackberry”. Jawab Amel

“Kayak gini nih Ta.” Ucap Dika sembari menyodorkan ponselnya kearah ku.

Akupun melihatnya dengan penuh harap nanti aku bisa memilikinya.

“Wah kalo gitu kamu harus punya BBM biar bisa chat sama kita” Kata Amel dengan lembutnya.

“Insya Allah “. Jawabku singkat.

****

Sayangnya, di usia ku yang bentar lagi menginjak genap ini, ayah malah gak kasih kabar apapun, boro-boro nyusun rencana untuk Party-ku, Ngirim surat pun bisa dihitung dengan lima jari saking ke jarangnya. Itulah yang bikin aku khawatir pada kondisi Ayah namun tak dipungkiri aku juga kesal dibuatnya.

“Ya, udah, Eyang dan Ninik mau tidur dulu, baik-baik ya cucu Ninik “kata Ninik sambil meletakkan selimut bergambar Hello Kitty kesukaanku di atas tubuhku, tak lupa juga Eyang mematikan lampu belajarku, kemudian mereka pun pergi meninggalkan ruangan kamarku.

Keesokan harinya……

Cerahnya pantulan sinar matahari dari kaca jendela kamar, membias langsung kearah wajahku sehingga memaksaku untuk segera bangun. Aku pun menepiskan selimutku dan bergegas mencuci mukaku, dan saat itupula aku aku melihat sebuah amplop berwarna biru muda tergeletak di atas meja belajarku, dengan mata yang masih sedikit sama-samar aku ambil amplop itu, aku lirik sebuah kalimat yang bertuliskan “To: Anak Ayah si imut”,

“Ayah ….”gumamku riang ketika mengetahui kalau amplop cantik itu dari orang yang sangat aku rindukan sosoknya. Kemudian aku buka dengan pelan supaya gambar Hello kitty di bagian depan amplop tersebut tidak rusak, ku baca dengan teliti isi surat di dalamnya.

“Ayah jahat….. jahat…. Aku benci ayah “itulah kata-kata yang terucap dari bibir mungilku ketika aku mengetahui dari surat itu bahwa ayah belum bisa pulang ke rumah minggu ini karena tugasnya di sana masih banyak yang terbengkalai. Aku kecewa.

Seharian aku malas untuk melakukan apapun bahkan untuk makan pun gak ada nafsu. Hal yang bikin aku kesal yakni dari surat itu aku tahu bahwa ayah gak bakal bisa ada si sampingku saat hari ulang tahunku dan itu artinya aku gak bakal dapat kado Handphone dari ayah.

Eyang sering melihatku di kamar dan ia hanya bisa bilang kalau aku harus sabar menunggu ayah pulang, doakan saja yang terbaik buat ayah.

Tapi, aku masih gak bisa terima dengan hal ini. Sampai ketika tiba di suatu malam menuju hari Ulang Tahunku, akupun masih sering menggumam sendiri.

*****

Suatu hari di sekolah…….

Di pagi hari yang cerah tepat di hari ulang tahunku, dengan lesu aku langkahkan kakiku menuju sekolah yang tidak begitu jauh dari rumahku, namun kondisi jalan yang di tempuh sedikit terjal dan masih becek-becek, maklum tempatku ini masih dalam masa perkembangan.

Tak lama kemudian akupun tiba disekolah, dengan gontainya aku melewati koridor yang menghubungkan antar kelas yang dihiasi dengan taman kecil sepanjang koridor tersebut. Bunga-bunga bermekaran di taman depan kelasku membuat rasa lesuh ku pun sedikit menghilang, aku pun mendekat kearah bunga itu , maksud hati ingin memetiknya namun tersentak niat itu pun urung karena tiba-tiba ada yang mencegat ku dari belakang.

“Hei, ucul mau nagapain kamu kesana, mau metik bunga itu yah, dasar cewek sok imut “ucapnya sinis padaku. Dengan masamnya aku pun menoleh kearah suara itu dan ketika aku melihat wajahnya akupun gak terlalu kaget karena memang ia yang selalu bikin aku kesal di kelas, siapa lagi kalau bukan Roni dan komplotannya.

“Apa-apaan sih kamu ini, selalu aja bikin gue badmood,bukan urusan loh, pergi sana “usirku padanya.

“Terserah gue dong, emang ni tempat punya Nenek Moyangmu ha?” jawabnya dengan suara keras membentakku. Akupun berlari ke kelas untuk menghindari perang dunia ke-4 antara kami berdua. Melihatku masuk kelas, ia pun menyusul dan kebetulan di dalam kelas kawan yang lain sudah pada berdatangan, akupun langsung menuju bangku kosong yang berada di sudut kelas.

Bel masuk pun berbunyi,

Pelajaran pertama ialah B.indonesia kebetulan gurunya itu wali kelas kami, jadi ketika di akhir jam pelajaran ia pun mengajak kami untuk bercerita tentang apapun atau kami biasa menyebutnya Sharing session. Namun,suasana dingin di kelas, memaksa ku untuk pergi ke toilet biasa panggilan alam. Akupun meminta izin pada bu Yani untuk keluar sebentar, ia pun mengiyakan.

Lima menit kemudian, akupun kembali ke kelas. Aku buka pintu kelas dengan pelan, dan ketika aku masuk semua umat di kelas ku itu pada pergi tak tahu kemana. Aku hanya mendapati sebuah kertas kecil bertuliskan “Temui kami di Basket Ball Field,sekarang !!!” dengan keheranan akupun menuju ke lapangan bola basket yang terletak di sebelah utara sekolahku. Aku berlari-lari sampai terengah-engah nafasku. Setiba disana akupun kaget melihat tak seorang pun disana.

Namun di tengah kebingunganku tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan ku dan membawaku ke bawah pohon dekat lapangan basket itu, dan setiba disana akupun langsung disambut oleh bu Yani dengan sebuah kue bertuliskan “Happy Birthday Imut ke -16”, di belakang bu Yani aku melihat kawan-kawanku bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Ada juga diantara mereka yang membawa balon Hello Kitty kesukaanku. Sementara kawan sibuk bernyannyi dan bercanda tawa bersama, bu Yani pun menyuruhku meniup lilinnya dan mengucapkan 16 wishes di umurku yang sekarang. Akupun berdoa semoga apa yang aku harapakn bisa tercapai, amiin. Dengan suka ria, ku potong kuenya dan langsung aku menyuapi mereka satu per satu. Keseruannya bukan hanya itu, Aku juga mendapat beberapa Greeting card serta kado dari teman sekelasku yaitu Roni, Amel, Dika, Dinda dan masih banyak lagi.

Tak terasa bel pulang pun telah berdering, keseruannya pun kami cukupkan sampai disini.

Kamipun pulang kerumah masing-masing. Aku pulang bersama Dinda karena kebetulan jalan kami searah. Kamipun asyik bercerita di sepanjang perjalan pulang, hingga tak terasa Dinda pu telah mencapai rumahnya. Tinggalah aku sendirian menyusuri jalan menuju rumahku.

Dari kejauhan aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal gerak-gerik tubuhnya sedang duduk di teras rumah. Ditemani oleh secangkir kopi ia juga terlihat santai dengan koran di tangannya.

Itu pasti ayah, pikirku.

Jalanku agak ku percepat untuk memastikan itu ayah atau bukan. Setiba di depan rumah, aku melihat jelas kalau lelaki itu benar ayahku, ayah yang kemarin ngirim surat kalau ia gak bisa pulang minggu ini, tapi sekarang ia telah duduk manis di rumah. Dan hal paling bikin bete dengan santainya ia berkata “Eh putri ayah udah pulang nih. “ Akupun hanya mengeluarkan sedikit senyuman dari bibir ku. Aku senang ayah sudah pulang dan ia tiba dihadapan ku, tapi aku juga kecewa kenapa kemarin ia menulis surat kalau ia gak bisa pulang minggu ini. “Udah yah, Tata mau ganti baju dulu “ucapku berjalan menjauh dari Ayah.

Setiba di kamar aku langsung melemparkan tas ku ke atas bed, aku tak niat deh kayaknya untuk ganti baju hari ini. Aku biarkan seragam sekolah ku masih melekat dan membalut tubuhku kemudian akupun rabahan di kasur ku untuk menghilangkan penat yang ada sekaligus juga menenangkan rasa kesalku pada ayah. Tanpa kusadari ternyata aku tertidur dengan puasnya hingga pukul 16.12 Wib. Dengan cekatan akupun mengambil handuk Pink-ku dan bergegas mandi.

Setelah membersihkan diri, aku pun shalat dan berdoa pada allah yang maha kuasa.

Tanpa kusadari, aku melihat Ayah didekat meja belajarku. Sepertinya dari tadi ia duduk disana dan menunggu ku selesai shalat. Sambil merapikan alat shalatku, aku gak bisa berkata apa-apa pada Ayah.

“Tata, kok kamu gitu si pada Ayah, ayah pulang kok gak disambut dengan ramah kayak biasanya?”tanya Ayah memulai pembicaraan. Akupun masih diam seribu Bahasa.

“Ya udah, kalau Ayah salah Ayah minta maaf deh sama Tata, maafin ya?”lanjut ayah membujuk ku untuk berbicara.

“Emmmmmm, atau begini saja. Gimana kalau Tata ikut Ayah aja sekarang?”Ajaknya smbil membelai rambutku.

“Kemana Yah?” jawabku dengan polos

Ayah pun tersenyum melihat ku langsung bicara saat dia akan mengajak ku pergi.

“sudah gak usah banyak nanya , nanti udah kesorean ni”jawab Ayah mengajak ku keluar dan ia pun mengeluarkan motor bututnya dan langsung aku duduk di belakangnya. Suasana sore hari begitu ramai di jalanan, tiba-tiba Ayah mengerem motornya di depan sebuah Warung Bakso kesukaanku. Ia pun lansung memparkir motornya. Lalu kamipun masuk ke Warung Bakso itu. Belum ada ucapan permintaan dariku, Ayah seakan tahu apa yang ada di pikiranku. Ia pun langsung memesan du porsi bakso urat dan dua gelas es buah.

Sembari menunggu pesanan akupun menikmati keramaian sore ini.

“Ta, dulu Ayah dan Ibu sering mampir ke Warung ini, karena menurut Ibumu bakso disini gak ada saingan nya deh…..”Ucap Ayah mengingatkanku akan sosok Ibu yang telah berjasa dalam hidupku. Akupun hanya bisa terdiam dan memnadangi gerak-gerik Ayah. Tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, kotak hitam bergambar handphone. Langsung terlintas di benakku kalau isi yang ada dalam kotak itu adalah handphone.

“Ta , Selamat ulang tahun ya Nak, maaf kalau Ayah bikin kamu kecewa, tapi yakinlah Nak, Ayah hanay ingin buat anak Ayah tersenyum melihat Ini………….” Ayah pun langsung menyodorkan kotak hitam itu padaku. Langsung ku ambil dan cekatan aku pun mulai membukanya.

“Wah……. Blackberry ,,,, ,ini untuk Tata kan Yah? “tanya ku sedikit ragu.

Ayah pun menganggu mengiyakan, dan tepatnya lagi pesanan kami telah datang.

“Terima kasih ya, Yah. Maafin Tata juga yah udah kesal sama ayah “lanjutku.

Kami pun begitu menikmati suasana sore ini. Senyum ku pun begitu terpancar dari wajahku.

****

Keesokan harinya di sekolah………

“Dika, Amel ajarin dong bagaimana menggunakan hanphone ku”pintaku pada sahabatku ketika jam istirahat.

“Buiiiihhhh,,, ada yang punya hanphone baru ni kayaknya”celetuk Roni and the geng.

“Sirik aja loh, Ron “kata Amel pada Roni.

“Iya ni, ngomong aja kalau loh pengen minta PIN BBM nya Tata kan?”lanjut Dika menyindir Roni, “dan loh harus tahu Ta, memang si dari dulu Roni selalu nanya pada gue tentang Kamu Ta”.

“Ciiiiieeeeee …. “ semuanya.

” Apaan sih kalian ini”jawabku dengan senyum.

Akupun hanya bisa tersenyum melihat ulah sahabat-sahabatku ini. Mereka selalu jahil namun selalu bisa bikin suasana jadi asyik.

-sekian-

Suasana malam di Desa Bugan, desa kelahiranku sangatlah bersahabat, Hembusan angin malam menciptakan sepoi-sepoi pada dedaunan yang rindang di depan rumahku. Kemerlap-kelip bintang di langit yang sunyi menambah indahnya suasana malam ini, bintang-bintang itu seakan sedang berlomba memperebutkan sang jagoan yang paling terang diantara mereka.

Di sebuah meja belajar yang langsung berhimpitan dengan jendela yang kira-kira berukuran 50×50 cm, aku sibuk menulis surat untuk sahabat penaku yang berada di Kalimantan. Kemarin sore surat dari Rena, sahabat penaku ini baru tiba di kotak pos rumahku.

Sesekali juga aku memandangi sebuah rembulan yang tak jauh dari bintang yang bercahaya indah diatas sana diiringi sejuknya angin malam menerpa wajah polos tanpa make-up ku memaksa ku untuk mengenakan jaket pink bergambarkan Hello Kitty yang aku dapat saat ultah yang ke-15th kemarin. Namun, kondisi ini tak sedikit pun menghilangkan semangatku untuk menulis balasan surat sahabat penaku ini.

Memandangi bintang dan rembulan dan bersurat-suratan…………….

Mungkin ini sudah menjadi Habit-ku, mengisi waktu, menemukan partner ,memperluas pergaulan dengan berkirim surat pada sahabat-sahabat ku yang ada di luar kota. Maklum, saat ini di desaku belum ada yang namanya Handphone, i-pad, tab ataupun teknologi lainnya yang bisa di gunakan.Setelah selesai menulis balasan surat untuk Rena, akupun membungkus surat itu dengan tatanan simple tapi elegant.

Kembali ku pandangi ciptaan-Nya yang begitu indah, terlintas aku merindukan sosok ayah yang selalu menemaniku disaat-saat seperti ini.

Rutinitas ini telah aku jalani semenjak aku masih dalam gendongan ayah, Dia yang selalu mengibur disaat aku sedang butuh sosok seorang Ibu dalam dekapan, ia selalu berkata bahwa ibumu selalu ada di antara bintang itu terutama yang paling dekat dengan Rembulan yang sangat indah sana. Ibuku sudah pergi menghadap Sang Khalik sekitar 16 tahun silam, ketika mengandungku, ibu mengidap kanker Rahim. Saat tiba waktu ku melihat indahnya dunia, saat itu pula ibuku pun menghembuskan napas terakhirnya, tepatnya dua hari setelah kelahiranku. Aku lahir pada 29 Agustus, akupun benar-benar tidak tahu bagaimana sosok ibuku. Tapi, ayah dengan sabarnya menggantikan posisi Ibu dalam hidupku. Ayah yang menceritakan semua tentang ibu padaku, dengan bantuan Eyang, Ninik dan bibiku mereka saling bahu-membahu mencari uang supaya bisa membelikanku SGM (susu gemuk manis) pengganti Asi dari ibuku.

Berkat usaha keras mereka lah, aku bisa tumbuh dan berkembang hingga tak terasa umurku tiga hari lagi menginjak usia ke-16th.

Hampir dua pekan berlalu Ayah tidak ada di rumah, ia pergi keluar kota karena ada tugas Dinas, tapi tak tau kenapa, malam ini sosok ayah selalu terlintas di benakku.

“Tata, kamu lagi ngapain?” Suara lembut itu sangat khas terngiang di teligaku, segera membuyarkan lamunanku.

“Enggak kok, barusan aja Tata bikin surat buat Rena, Nik “kataku lembut dan sedikit lesu,sambil menoleh ke arahnya. Yap, mereka adalah Eyang dan Ninik dari Ayahku, mereka sangat dekat denganku, terutama Eyang,ia mengerti semua sifatku, maka dari itu aku tak pernah bisa bohong pada Eyang, ia tahu perubahan mimik wajahku kalau aku lagi kangen sama Ayahku.

“Ni udah malam Tata, cepat tidur entar telat besok ke sekolahnya “pintanya sambil menutup jendela kamarku.

“Eyang gimana sih, besok kan tanggal merah masa Tata disuruh sekolah, “jawabku sedikit manja pada mereka. Ninik pun tersenyum melihat kearah Eyang seolah menandakan kalau mereka tak bisa merahasiakan tanggal esok padaku, cucu kesayangan.

Memang sih, kalau tanggal sudah mendekati hari kemunculan ku di alam dunia ini, aku selalu tahu tanggal merahnya karena biasanya Ayah selalu menyusun rencana jauh-jauh hari untuk merayakannya. Tak jarang Ayah juga bertanya padaku tentang apa yang aku inginkan di hari istimewa ku nanti dan biasanya saat hari istimewa itu tiba, ia pun memberikannya padaku.

Dibalik semua itu ada satu kado yang sangat aku harapkan namun belum tercapai di Ultahku ke-14th dan 15th kemarin, aku minta dibelikan Handphone pada ayah. Berat rasanya untuk ungkapkan kalau aku ingin dibelikan Handphone. Tapi di sisi lain aku juga lelah selalu di ejek oleh kawan kelas karena mereka sering melihat ku menulis surat untuk sahabat penaku.

“Ni bukan jamannya lagi keles, bikin surat-suratan, “ejek Roni kawan sekelasku yang paling sering mengolok-olokku.

“iya ni, tahu gak sih nulis surat tu bikin tangan pegal, mana ngirimnya lamaaaaaa banget untuk sampaii di tempat tujuan , males banget” sahut Rindi, anggota Roni’s Geng.

Akupun hanya bisa diam saat mereka berkata seperti itu di hadapanku. Aku berusaha sabar dan tabah karena aku yakin Allah pasti tahu segalanya.

Namun ada satu kejadian yang bikin aku benar-benar malu dan sekaligus kecewa yaitu kejadian yang konyol saat aku duduk di bangku putih baru.

Tepatnya saat aku dan teman sekelasku jalan-jalan ke Taman Pelangi di kotaku. Kami pun berteduh di bawah pohon Cinta.Kebetulan aku duduk di dekat Dika dan Amel. Detik waktu terus berlalu, Dika sibuk dengan Handphone baru miliknya, Amel sibuk Chattingan sama Dito,teman dekatnya. Sedangkan aku bertolak belakang sama mereka, dengan jenuh aku membaca sebuah novel karya novelis favoritku yaitu Asma Nadia. Sesekali ku pandangi mereka, dengan rasa penasaran akupun mulai bertanay-tanya pada mereka.

“Hei,,, kalian lagi sibuk apaan sih ?”tanyaku sedikit ngeyel.

“Oh, maaf Tatut yang imut “jawab Amel gemes.

”Ini loh, gue lagi BBM-an sama si dia, biasa “sambungnya bikin ku penasaran.

BBM? Bahan Bakar Minyak maksudmu?”tanyaku lagi.

Seketika tawa Amel meledak dan diikuti oleh Dika ketika mengetahui betapa gapteknya aku. Aku yang saat itu bingung menyembunyikan wajah maluku ketika di tertawakan oleh kedua sahabat kecilku ini.

“hahaha, bukan bahan bakar minyak Ta,tapi Blackberry Messenger”jawab Dika dengan mengusap sejentik air mata di sudut matanya akibat ledakan tawanya.

“Apaan tu Blackberry messenger”jawabku tambah bingung.

“Itu ya kayak sms gitu Ta tapi lebih seru. Soalnya nih disitu kita bisa tahu photo orang yang kita ajak sms-an. Jadi muncul photonya gitu.”terang Dika.

“Apalagi di Blackberry Messenger itu Emoticon nya banyak lho Ta, dapat menggambarkan bermacam-macam ekspresi” lanjutnya.

“Kita juga bisa update status lho, tentang apa yang sedang kita lakukan atau yang sedang kita rasakan saat ini. Seumpama kamu lagi sibuk, lalu kamu nulis status busy atau lagi sibuk. Nah, nanti teman-teman mu yang terdaftar di kontakmu tahu kamu lagi sibuk dan akan menghubungi nanti setelah kamu ga sibuk lagi”lanjut Amel. Aku pun mengangguk anggukan kepala pertanda mengerti dengan apa yang mereka jelaskan.

“Terus gimana caranya biar bisa punya BBM?” Tanya ku.

“Ya…..download dong aplikasinya di apps store, atau kamu harus beli ponsel blackberry”. Jawab Amel

“Kayak gini nih Ta.” Ucap Dika sembari menyodorkan ponselnya kearah ku.

Akupun melihatnya dengan penuh harap nanti aku bisa memilikinya.

“Wah kalo gitu kamu harus punya BBM biar bisa chat sama kita” Kata Amel dengan lembutnya.

“Insya Allah “. Jawabku singkat.

****

Sayangnya, di usia ku yang bentar lagi menginjak genap ini, ayah malah gak kasih kabar apapun, boro-boro nyusun rencana untuk Party-ku, Ngirim surat pun bisa dihitung dengan lima jari saking ke jarangnya. Itulah yang bikin aku khawatir pada kondisi Ayah namun tak dipungkiri aku juga kesal dibuatnya.

“Ya, udah, Eyang dan Ninik mau tidur dulu, baik-baik ya cucu Ninik “kata Ninik sambil meletakkan selimut bergambar Hello Kitty kesukaanku di atas tubuhku, tak lupa juga Eyang mematikan lampu belajarku, kemudian mereka pun pergi meninggalkan ruangan kamarku.

Keesokan harinya……

Cerahnya pantulan sinar matahari dari kaca jendela kamar, membias langsung kearah wajahku sehingga memaksaku untuk segera bangun. Aku pun menepiskan selimutku dan bergegas mencuci mukaku, dan saat itupula aku aku melihat sebuah amplop berwarna biru muda tergeletak di atas meja belajarku, dengan mata yang masih sedikit sama-samar aku ambil amplop itu, aku lirik sebuah kalimat yang bertuliskan “To: Anak Ayah si imut”,

“Ayah ….”gumamku riang ketika mengetahui kalau amplop cantik itu dari orang yang sangat aku rindukan sosoknya. Kemudian aku buka dengan pelan supaya gambar Hello kitty di bagian depan amplop tersebut tidak rusak, ku baca dengan teliti isi surat di dalamnya.

“Ayah jahat….. jahat…. Aku benci ayah “itulah kata-kata yang terucap dari bibir mungilku ketika aku mengetahui dari surat itu bahwa ayah belum bisa pulang ke rumah minggu ini karena tugasnya di sana masih banyak yang terbengkalai. Aku kecewa.

Seharian aku malas untuk melakukan apapun bahkan untuk makan pun gak ada nafsu. Hal yang bikin aku kesal yakni dari surat itu aku tahu bahwa ayah gak bakal bisa ada si sampingku saat hari ulang tahunku dan itu artinya aku gak bakal dapat kado Handphone dari ayah.

Eyang sering melihatku di kamar dan ia hanya bisa bilang kalau aku harus sabar menunggu ayah pulang, doakan saja yang terbaik buat ayah.

Tapi, aku masih gak bisa terima dengan hal ini. Sampai ketika tiba di suatu malam menuju hari Ulang Tahunku, akupun masih sering menggumam sendiri.

*****

Suatu hari di sekolah…….

Di pagi hari yang cerah tepat di hari ulang tahunku, dengan lesu aku langkahkan kakiku menuju sekolah yang tidak begitu jauh dari rumahku, namun kondisi jalan yang di tempuh sedikit terjal dan masih becek-becek, maklum tempatku ini masih dalam masa perkembangan.

Tak lama kemudian akupun tiba disekolah, dengan gontainya aku melewati koridor yang menghubungkan antar kelas yang dihiasi dengan taman kecil sepanjang koridor tersebut. Bunga-bunga bermekaran di taman depan kelasku membuat rasa lesuh ku pun sedikit menghilang, aku pun mendekat kearah bunga itu , maksud hati ingin memetiknya namun tersentak niat itu pun urung karena tiba-tiba ada yang mencegat ku dari belakang.

“Hei, ucul mau nagapain kamu kesana, mau metik bunga itu yah, dasar cewek sok imut “ucapnya sinis padaku. Dengan masamnya aku pun menoleh kearah suara itu dan ketika aku melihat wajahnya akupun gak terlalu kaget karena memang ia yang selalu bikin aku kesal di kelas, siapa lagi kalau bukan Roni dan komplotannya.

“Apa-apaan sih kamu ini, selalu aja bikin gue badmood,bukan urusan loh, pergi sana “usirku padanya.

“Terserah gue dong, emang ni tempat punya Nenek Moyangmu ha?” jawabnya dengan suara keras membentakku. Akupun berlari ke kelas untuk menghindari perang dunia ke-4 antara kami berdua. Melihatku masuk kelas, ia pun menyusul dan kebetulan di dalam kelas kawan yang lain sudah pada berdatangan, akupun langsung menuju bangku kosong yang berada di sudut kelas.

Bel masuk pun berbunyi,

Pelajaran pertama ialah B.indonesia kebetulan gurunya itu wali kelas kami, jadi ketika di akhir jam pelajaran ia pun mengajak kami untuk bercerita tentang apapun atau kami biasa menyebutnya Sharing session. Namun,suasana dingin di kelas, memaksa ku untuk pergi ke toilet biasa panggilan alam. Akupun meminta izin pada bu Yani untuk keluar sebentar, ia pun mengiyakan.

Lima menit kemudian, akupun kembali ke kelas. Aku buka pintu kelas dengan pelan, dan ketika aku masuk semua umat di kelas ku itu pada pergi tak tahu kemana. Aku hanya mendapati sebuah kertas kecil bertuliskan “Temui kami di Basket Ball Field,sekarang !!!” dengan keheranan akupun menuju ke lapangan bola basket yang terletak di sebelah utara sekolahku. Aku berlari-lari sampai terengah-engah nafasku. Setiba disana akupun kaget melihat tak seorang pun disana.

Namun di tengah kebingunganku tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan ku dan membawaku ke bawah pohon dekat lapangan basket itu, dan setiba disana akupun langsung disambut oleh bu Yani dengan sebuah kue bertuliskan “Happy Birthday Imut ke -16”, di belakang bu Yani aku melihat kawan-kawanku bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Ada juga diantara mereka yang membawa balon Hello Kitty kesukaanku. Sementara kawan sibuk bernyannyi dan bercanda tawa bersama, bu Yani pun menyuruhku meniup lilinnya dan mengucapkan 16 wishes di umurku yang sekarang. Akupun berdoa semoga apa yang aku harapakn bisa tercapai, amiin. Dengan suka ria, ku potong kuenya dan langsung aku menyuapi mereka satu per satu. Keseruannya bukan hanya itu, Aku juga mendapat beberapa Greeting card serta kado dari teman sekelasku yaitu Roni, Amel, Dika, Dinda dan masih banyak lagi.

Tak terasa bel pulang pun telah berdering, keseruannya pun kami cukupkan sampai disini.

Kamipun pulang kerumah masing-masing. Aku pulang bersama Dinda karena kebetulan jalan kami searah. Kamipun asyik bercerita di sepanjang perjalan pulang, hingga tak terasa Dinda pu telah mencapai rumahnya. Tinggalah aku sendirian menyusuri jalan menuju rumahku.

Dari kejauhan aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal gerak-gerik tubuhnya sedang duduk di teras rumah. Ditemani oleh secangkir kopi ia juga terlihat santai dengan koran di tangannya.

Itu pasti ayah, pikirku.

Jalanku agak ku percepat untuk memastikan itu ayah atau bukan. Setiba di depan rumah, aku melihat jelas kalau lelaki itu benar ayahku, ayah yang kemarin ngirim surat kalau ia gak bisa pulang minggu ini, tapi sekarang ia telah duduk manis di rumah. Dan hal paling bikin bete dengan santainya ia berkata “Eh putri ayah udah pulang nih. “ Akupun hanya mengeluarkan sedikit senyuman dari bibir ku. Aku senang ayah sudah pulang dan ia tiba dihadapan ku, tapi aku juga kecewa kenapa kemarin ia menulis surat kalau ia gak bisa pulang minggu ini. “Udah yah, Tata mau ganti baju dulu “ucapku berjalan menjauh dari Ayah.

Setiba di kamar aku langsung melemparkan tas ku ke atas bed, aku tak niat deh kayaknya untuk ganti baju hari ini. Aku biarkan seragam sekolah ku masih melekat dan membalut tubuhku kemudian akupun rabahan di kasur ku untuk menghilangkan penat yang ada sekaligus juga menenangkan rasa kesalku pada ayah. Tanpa kusadari ternyata aku tertidur dengan puasnya hingga pukul 16.12 Wib. Dengan cekatan akupun mengambil handuk Pink-ku dan bergegas mandi.

Setelah membersihkan diri, aku pun shalat dan berdoa pada allah yang maha kuasa.

Tanpa kusadari, aku melihat Ayah didekat meja belajarku. Sepertinya dari tadi ia duduk disana dan menunggu ku selesai shalat. Sambil merapikan alat shalatku, aku gak bisa berkata apa-apa pada Ayah.

“Tata, kok kamu gitu si pada Ayah, ayah pulang kok gak disambut dengan ramah kayak biasanya?”tanya Ayah memulai pembicaraan. Akupun masih diam seribu Bahasa.

“Ya udah, kalau Ayah salah Ayah minta maaf deh sama Tata, maafin ya?”lanjut ayah membujuk ku untuk berbicara.

“Emmmmmm, atau begini saja. Gimana kalau Tata ikut Ayah aja sekarang?”Ajaknya smbil membelai rambutku.

“Kemana Yah?” jawabku dengan polos

Ayah pun tersenyum melihat ku langsung bicara saat dia akan mengajak ku pergi.

“sudah gak usah banyak nanya , nanti udah kesorean ni”jawab Ayah mengajak ku keluar dan ia pun mengeluarkan motor bututnya dan langsung aku duduk di belakangnya. Suasana sore hari begitu ramai di jalanan, tiba-tiba Ayah mengerem motornya di depan sebuah Warung Bakso kesukaanku. Ia pun lansung memparkir motornya. Lalu kamipun masuk ke Warung Bakso itu. Belum ada ucapan permintaan dariku, Ayah seakan tahu apa yang ada di pikiranku. Ia pun langsung memesan du porsi bakso urat dan dua gelas es buah.

Sembari menunggu pesanan akupun menikmati keramaian sore ini.

“Ta, dulu Ayah dan Ibu sering mampir ke Warung ini, karena menurut Ibumu bakso disini gak ada saingan nya deh…..”Ucap Ayah mengingatkanku akan sosok Ibu yang telah berjasa dalam hidupku. Akupun hanya bisa terdiam dan memnadangi gerak-gerik Ayah. Tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, kotak hitam bergambar handphone. Langsung terlintas di benakku kalau isi yang ada dalam kotak itu adalah handphone.

“Ta , Selamat ulang tahun ya Nak, maaf kalau Ayah bikin kamu kecewa, tapi yakinlah Nak, Ayah hanay ingin buat anak Ayah tersenyum melihat Ini………….” Ayah pun langsung menyodorkan kotak hitam itu padaku. Langsung ku ambil dan cekatan aku pun mulai membukanya.

“Wah……. Blackberry ,,,, ,ini untuk Tata kan Yah? “tanya ku sedikit ragu.

Ayah pun menganggu mengiyakan, dan tepatnya lagi pesanan kami telah datang.

“Terima kasih ya, Yah. Maafin Tata juga yah udah kesal sama ayah “lanjutku.

Kami pun begitu menikmati suasana sore ini. Senyum ku pun begitu terpancar dari wajahku.

****

Keesokan harinya di sekolah………

“Dika, Amel ajarin dong bagaimana menggunakan hanphone ku”pintaku pada sahabatku ketika jam istirahat.

“Buiiiihhhh,,, ada yang punya hanphone baru ni kayaknya”celetuk Roni and the geng.

“Sirik aja loh, Ron “kata Amel pada Roni.

“Iya ni, ngomong aja kalau loh pengen minta PIN BBM nya Tata kan?”lanjut Dika menyindir Roni, “dan loh harus tahu Ta, memang si dari dulu Roni selalu nanya pada gue tentang Kamu Ta”.

“Ciiiiieeeeee …. “ semuanya.

” Apaan sih kalian ini”jawabku dengan senyum.

Akupun hanya bisa tersenyum melihat ulah sahabat-sahabatku ini. Mereka selalu jahil namun selalu bisa bikin suasana jadi asyik.

-sekian-

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s